Tuesday, September 11, 2007

JJI-4.3 : Ciputih Beach Resort

Minggu, 26.08.07


- dijepret oleh Jaka & Dody -

Ah, malas rasanya bangun setelah tidur lelap semalaman. Buka gorden, menikmati pemandangan laut dari kasur. Begitu mulai terang, baru deh keluar dan jalan-jalan lagi di pinggir pantai. Ketemu Wagni yang tiap pagi menatap matahari pagi, katanya bisa mengurangi minus. Pantai masih sepi, kepiting kecil-kecil masih malas keluar dari sarangnya di bawah pasir. Maksud hati sih mau menyusuri tepi kanan pantai sampai ujung, tapi semakin lama, pantai makin sempit dan banyak karang. Karena berjalan tanpa alas kaki, cukup sampai ke bagian yang masih bisa dilewati. Kerang sudah terkumpul cukup banyak, lagipula, kalau terus ke ujung takut ketemu biawak seperti rombongan Jaka kemarin sore.

Kembali ke kamar. Pak Wik mempelopori membawa motor ke depan kamar dan mulai membongkar motornya. Yang lain jadi ikutan, tapi nggak ikutan mencuci motor dibawah shower depan cottage seperti Pak Wik. Paling banter membersihkan mika helm dan windshield dengan kanebo serta menepis debu dengan kemoceng dari kamar hotel. Enaknya kalo liburan bersama, kalau ada apa-apa, ada temennya. Kalau butuh octane booster, ada di Pram, bisa saling pinjem kanebo, pinjam sekring dan X. Masing-masing juga udah siap dengan obat dan vitamin, dari obat pusing, obat maag, sampe obat alergi dan vitamin C.

Jam 9 kita kembali sarapan di restoran. Menu kali ini adalah menu semalam yang masih tersisa seperti ayam dan ikan bakar. Sebagai tambahan, tadi kita sudah memesan telur dadar, telur mata sapi dan kerupuk. Sarapan kali ini enak banget. Opa dan Febri memesan telur setengah matang untuk mendongkrak stamina.

Selesai makan, dilakukan perhitungan biaya seperti biasa dilakukan kalau JJI. Kita dapat diskon kamar dari hotel yang kemudian disubsidi silang ke makanan sehingga terasa tidak mahal. Untuk segala biaya termasuk sewa perahu, semua peserta setuju menanggung biarpun mereka tidak ikut menikmatinya. Beberapa bahkan menanggung sendiri biaya membeli es kelapa, batu es dan cemilan. Makasih ya.. Bagi peserta yang tidak membawa cash, dipersilahkan mengambil dana di atm terdekat saat pulang untuk mengganti dana yang ditanggung sementara oleh Opa.

Setelah semua perhitungan beres, kita berjanji berkumpul lagi jam 11 di depan restoran, kemudian bubar untuk persiapan kepulangan. Yang sudah beres kembali duduk di tepi pantai seolah nggak mau rugi menikmati pantai sampai detik terakhir keberangkatan.

Jam 11 kembali ke depan restoran dan berfoto bersama dengan latar belakang kolam renang tepi pantai. Lokasi foto yang paling masuk akal dibanding harus berfoto di pinggir pantai. Selesai foto, kita briefing sebentar untuk pulang, berdoa bersama kemudian toss bareng untuk semangat. Maka bersiaplah JJI-ers kembali ke Jakarta.

Dengan dilepas hampir seluruh pegawai hotel, rombongan meninggalkan Ciputih Beach Resort. Adi berada paling depan sebagai RC, katanya siap menjaga tempo perjalanan pulang. Rombongan berjalan pelan karena kondisi jalan yang cukup rusak dan mengingat isi tangki hampir semua peserta yang pas-pasan. Jarak masing-masing motor cukup dekat dan ini dimanfaatkan untuk dokumentasi.

Tiba di pom bensin pertama setelah Ciputih, yaitu di daerah Saketi, ternyata Premium habis. Bahkan warung di pinggir jalan yang menjual bensin eceran tepat di depan pom tersebut juga kehabisan premium. Wah, krisis bensin ternyata sampai juga di Banten. Rombongan berjalan lagi setelah dapat petunjuk ada yang menjual bensin eceran sekitar 500 meter di depan. Pas sampai di warung tersebut, motor Adi mati kehabisan bahan bakar. Nyaris semua anggota rombongan mengisi bensin, termasuk Pak Wik. Waktu JJI ke Cirata, Pram dan Pak Wik sempat mengecer bensin di tengah jalan, tapi hanya Pak Wik yang diabadikan. Kali ini Pak Wik mengajak teman-teman untuk didokumentasikan sedang jajan bensin di pinggir jalan. Octane booster-nya Pram ikut beraksi demi menjaga stamina bahan bakar.

Melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian kita menemukan pom bensin yang menyediakan Premium dan Pertamax, hanya saja Pertamaxnya habis. Ramai-ramai rombongan mengisi tangki bahan bakar sampai pol. Sejenak beristirahat di pom bensin tersebut, kita membicarakan masalah ban motor EX Wagni yang benjol-benjol. Sepulang dari Cirata ban tersebut sudah peyang dan saat perjalanan ke Ciputih kemarin sempat menghajar lubang sehingga kondisi ban makin parah. Opa menyarankan agar laju kendaraan dikurangi sambil mencari tempat yang menjual ban vespa.

Di pertigaan Tarogong, rombongan berhenti untuk menunggu Wagni yang membeli ban. Ban luar vespa tampaknya sulit ditemukan di sekitar sana, jadi dia membeli ban dalam. Akhirnya rombongan terbagi dua, Wagni, Pak Wik dan Moko mencari tempat untuk menambal ban, sementara sisanya menuju restoran di dekat pertigaan tersebut.

Waktu telah menunjukkan pukul 15.00, waktu makan siang sudah lama lewat. Tadinya kita ingin makan lagi di warung yang sama seperti waktu berangkat, tapi karena masih jauh kita mencari alternatif lain demi kesehatan bersama. Restoran Padang itu bernama Pondok Salero, tidak terlalu besar tapi cukup menampung semua rombongan. Biasanya restoran Padang yang berada agak jauh dari kota besar, memiliki rasa yang biasa saja karena terpengaruh masakan setempat. Tapi restoran ini ternyata dimiliki oleh orang Minang asli, jadi rasanya cukup terjaga.

Saat sedang asik makan, mendadak Opa pindah ke kursi paling belakang sambil membawa Oxycan. Mukanya pucat dan berkali-kali menghirup dari kaleng oksigen cilik. “Oksigennya nggak sampe ke kepala,”jelas Opa. Kemudian beliau minta dipijat oleh Dody yang akhirnya resmi jadi pemijat pribadi Opa. Balsem dan minyak kayu putih langsung muncul. Kemudian karena curiga sakit maagnya kumat, saya inisiatif membuat oatmeal instant yang kemudian hanya disentuh sedikit. Sayangnya, saya tidak ingat untuk mengeluarkan obat maag farmacrol tablet yang selalu dibawa saat bepergian. Kami cukup panik dengan kondisi Opa.

Sempat ada pembicaraan untuk menyewa truk untuk mengangkut motor Opa, sedangkan Opa dibonceng oleh anggota Rombongan lainnya. Pak Wik yang telah muncul direstoran mengusulkan agar Opa dibawa dengan Ambulan. Weits, Opa langsung sehat mendengarnya, langsung merokok G2 hijaunya lagi. Apalagi saat ada rombongan moge lewat dengan sirenenya, Opa makin gagah aja.

Rombongan kecil Wagni mendapat kendala saat akan mengganti ban dalam, ternyata ban yang dibeli telah robek. Mereka kembali harus mencari dan untungnya berhasil. Adi yang telah selesai makan bermaksud menggantikan Pak Wik menemani Wagni agar bisa makan siang dulu. Iruul kemudian menyusul bermaksud menggantikan Moko dengan berbekal 2 porsi nasi bungkus. Tidak lama Iruul pergi, Moko sudah tiba di restoran langsung memesan makanan. Rupanya dia berpapasan dengan Iruul di jalan tapi tidak berhenti. Tidak lama, Adi, Iruul dan Wagni muncul, siap melanjutkan perjalanan.

Pukul 16.00 rombongan jalan lagi. Rute kali ini tidak sama dengan rute berangkat. Kita berusaha mencari jalan yang cepat sampai dan ini berarti mengambil jalan yang lebih banyak trek lurus dan lebih mulus, tapi berarti lebih ramai karena merupakan jalur utama dan pastinya melewati kota besar. Seperti yang diduga, rombongan berkali-kali melewati pasar, terminal, harus menyalip susah payah dari bis dan truk yang ngotot. Rombongan juga beberapa kali istirahat di tepi jalan untuk menjaga stamina (opa).

Saat Maghrib, kembali rombongan mengisi bensin di daerah Balaraja. Kali ini mengisi dengan pertamax sampai penuh. Mumpung ada mesjidnya, kita istirahat sambil menunggu peserta yang menunaikan shalat. Sekali lagi Opa dipijit oleh Dody, yang harus balik arah lagi karena tadi keterusan dan tidak berhenti di pom bensin. Opa biarpun sakit, tapi kalau sudah menunggangi motornya, minimal cepek lah, kaya’ pak ogah..

Rombongan kembali berhenti di daerah Serang untuk menemani yang mengambil dana di atm. Kesempatan ini digunakan untuk istirahat karena jalanan cukup padat biarpun hari minggu.

Memasuki Jakarta sudah gelap dan tidak bisa cepat. Sungguh bukan rute yang bisa dinikmati. Belum lagi beberapa motor seperti tidak siap untuk jalan malam. Di halte kebun jeruk dekat bebek goreng Yogi, rombongan berhenti sebentar untuk berpamitan. Rombongan akan terbagi dua, Pram, Echa, Ubay, Wagni, Pak Wik menuju Jakarta Pusat/Timur dan Opa, Adi, Moko, Dody, Jaka, Iruul menuju Jakarta Selatan. Sempet merasa sedih karena lokasi pamitannya kurang asik. Kalo pamitan di Citra Indah baru afdol, he he..

Rombongan Jakarta Pusat/Timur melewati Permata Hijau terus ke arah Pejompongan. Pak Wik berbelok ke jalan Casablanca menuju rumahnya di Pondok Bambu. Pram, Echa dan Wagni menggeber motornya sehingga serasa sedang JJI. Mungkin mumpung jalanan agak sepi.

Perjalanan menuju Manggarai agak terganggu karena ada perbaikan jalan di jalur non-busway sehingga trafik dialihkan ke jalur busway. Namun sekitar 200 meter kemudian trafik kembali ke jalur biasa. Rupanya Pram, Echa dan Wagni tidak mengambil jalur itu dan tetap berada di jalur busway. Ubay dan saya melewati jalur biasa dan melihat ketiga motor terjebak diantara dua busway. Karena berpikir mereka akan baik-baik saja, LX Penjahat tetap jalan terus dengan kecepatan biasa. Tapi curiga juga karena tidak ada tanda-tanda disusul padahal sebelumnya Pram akan selalu touring style. Ternyata mereka tertangkap polisi, halah.. Cerita selengkapnya bisa didapat dari Pram, Wagni dan Echa.

Yang jelas begitu sampai rumah, nggak bisa langsung masuk karena kunci rumah dibawa belanja ke Carrefour. Begitu bisa masuk rumah rasanya lega banget bisa mengistirahatkan pantat ini. Tapi juga ada rasa kangen pada Ciputih, karena begitu masuk kamar tidak ada pemandangan langsung ke laut.

Demikian cerita JJInya, Jalan-Jalan Iseng, orang-orang aneh yang menyukai Kymco dan temennya punya Kymco dan akhirnya jadi dekat karena seleksi alam. JJI ini udah yang ke 4 kalinya, tapi baru kali ini dituliskan. Foto-fotonya sih banyak dan mungkin bisa lebih berbicara daripada sekedar tulisan. Semoga yang membaca merasakan kegairahan yang sama dengan kami, merasakan persahabatan dan kalo bisa merasakan kecape’an juga.


Silahkan lho buat yang mau memberi masukan dan saran..


11 comments:

Echa said...

Last day... what can i say? it has to end at some point :( but look at the bright side, we have lots and lots of fun! back to reality, senen mulai kerja lagi... huahahaha. perjalanan pulang lebih lama lagi karena satu dan lain hal, tapi yang penting smua selamat sampe ke tujuan masing2... amien! so, see you guys on the next JJI ya =) soon i hope ;p

arturo said...

Just one sentence : I hate my boss!!!

Hehehe ... artikan sendiri deh maknanya ...

Sekadar info: untuk jalan ke manggarai paling enak lewat duku atas dulu trus belok kiri masuk ke kolong jembatan lewatin warung2 sate pak kumis .. (tapi jgn belok ke area bencong yee) jalan di sini relatif lebih sepi ketimbang jalan baru disisi seberang kali itu.

Anonymous said...

Bukan mau GR sih, tapi sepanjang saya jalan ke-mana-2 terutama daerah pantai, this is the one and only beach I enjoyed and never get bored eventhough how many times I have been here I will still try to be back again one day. Tempat yang bagus juga membawa keluarga besar kesini, tentunya naik mobil ya. Yang enak itu minimal 4 hari 3 malam, baru puas.

Anonymous said...

Arif, do not hate your Boss, anyhow She has her reason for doing so isn't it ? There'll be other times for you to enjoy such moments in life. you skipped Pelabuhan Ratu and Ciputih right, who knows one day we'll be going again to those places.
Cheer up my friend.

Anonymous said...

This is a place where iut would be very romantic if you have your wife or ven girl friend with you, the remote quiteness, the waves at the white sands and clear beach ......... wow it makes me feel ........ jealous of you guys since I'm all alone now. But I had my time with my beloved late wife and some girlfriends, so I'm happy you all enjoyed your stay at Ciputih.

Echa said...

very romantiiiiic, hehehehe

Anonymous said...

Huuuhhhhh Echa, iya dech Cha, harusnya di penalty tuh.
Sayang ya D'Angkringers nggak lengkap, Franky - Arif - Chey - Rene & Keke nggak bisa ikut.
Mudah-2-an masih bisa diulang one day.

Unknown said...

Setujuh, Opa.. semoga one day kita semua bisa main ke sana lagi.
Tapi jangan lupa makan teratur dan banyak ya, Opa. Kita siapin vita quaker dan farmacrol, dehhh...
Pengalaman Ciputih kemarin tak terlupakan, perayaan tahun ke-3 yang mengesankan. Keluar kamar ada temen-temen yang asik.. Masuk kamar, bulan madu dooong.. ;)

Anonymous said...

Iya Lan, kemarin ini memang salah saya sendiri, sok kuat, sarapan hanya 2 butir telur setengah matang. Wah Vita-Quaker dengan Perisa Coklat ? Nikmat sekali itu.
Kebetulan sekali ya sekalian " 3rd Wedding Anniversary " kalian ditempat yang begitu romantis, wow jadi pengin muda kembali nih. Ha ha ha ha.

Anonymous said...

sebuah perjuangan untuk sampai kesana maklum termasuk kloter ke 2 brgkt pun cuma 2 motor tapi seru he..he.. banyak nyasarnya one day kita ulangi lagi kawan2 ......

Anonymous said...

Rasa-2-nya sih Adi, pasti suatu saat akan timbul keinginan untuk kesana lagi, mungkin tahun 2008 ? Seperti saya saja nggak pernah bosan kesana walaupun jalannya " hebat ".
Menurut saya yang hebat justru kamu - Febri - Pak Wik bisa sampai juga akhirnya, walau tadinya saya kuatir juga takut kalian nyasar.