- dijepret oleh Jaka -Akhirnya gw bisa ikut juga JJI (setelah beberapa kali temen2 lain udah duluan ke beberapa tempat). Sabtu, 21 Juli 2007, jam 6 pagi lebih sedikit gw udah mendarat di POM Pondok Indah, take-off point, sesuai kesepakatan bersama. Dari rumah, Pondok Kelapa, gw barangkat jam 5.15, menuju POM Bensin Saharjo, tepat di depan Univ. Sahid. Di situ gw janji ketemuan ama Franky. Perjalanan dari POM bensin Saharjo ke POM bensin PI ini hanya makan waktu kurang dari 30 menit. Maklum, hari sabtu pagi buta gitu orang masih lebih suka berkutat di tempat tidur daripada di atas aspal. Jadi, jalanan sepi, tapi dinginnya … brrrggghh … untung gw pake sweater sebelum dibungkus jaket parasut di badan.
Setibanya di POM Bensin PI , sudah banyak peserta yang sedang santai sambil ngobrol dan ngerokok sementara motor-motor berbaris rapi. Jenis Kymco, tentu yang dominan, dan dari berbagai tipe (dari yang tua ampe yang terbaru).
Pesertanya kali ini, Opa Al, Ubay and bojo (Lani), Pram, Rene, Jaka, Echa, Pak Wik, Franky, dan bosnya Franky. Ada juga Spin (sori gw lupa namanya), Mio (anaknya Pak Wik) dan satu motor jadul merek BMW (gw jadi inget film-film Nazi liat tuh motor) yang ditunggali Giri. Si Adi dan bojo (Febri) nunggu di Citos. Sori kalo ada yang belum kesebut …
Sekitar pukul 6.15 WIB kita berkumpul dan membuat lingkaran. “Kita biasakan sebelum dan sesudah jalan-jalan iseng ini berdoa dulu,” ujar Opa, sebagai yang tertua di komunitas ini. Wah, betul tuh, Opa .. setuj deh!
Pas kita mau do’a, satu SR BlackRed merapat. Rupanya, bosnya si Franky. Pas buka helm, waduuh … ternyata udah sepuh juga … hehehe. Akhirnya Opa dan Pak Wiwik (yang selama ini kita ‘sepuh’-kan dapet juga teman selevel sekaligus pesaing … xixixi).
Jalur Yang Salah
Kami pun start engine setelah berdoa. Dan sekitar pukul 6.20 roda-roda motor kami bergulir merambah aspal Jl. Raya Pondok Indah yang mulus-lussss … Jaka, kalo ga salah, yang jadi RC dengan Kymco the Legend-nya.
Rute kali ini mengambil arteri Pondok Indah arah ke Ps. Minggu. Jalanan sudah mulai agak rame, tapi kita masih tetep bisa full throttle (ceilee bahasa gw … anak biker banget yak?!).
Jelang lampu merah perempatan Ps. Minggu/Tj. Barat, Jaka ambil jalan U turn, gw sih ikut ajah sebagai ma’mum yang baik. Liat di kaca spion, yang lain juga ikut tanpa protes. Soalnya, setahu gw harusnya jalan lurus ke arah Ps Rebo atau belok kanan ke arah Margonda Depok. Tapi ya udah … inilah gunanya RC, dia yang nentuin rute.
Setelah putar balik Jaka ambil jalan ke kiri masuk ke area perkampungan. Ternyata jalannnya lumayan neh … naik-turun dan berkelok-kelok … wah asyik juga neh (muncul norak gw sebagai newbie JJI).
Selang beberapa menit ternyata udah muncul di sekitar LA (Lenteng Agung maksudnya, bukan di US sana, kan ga bawa paspor … hehehe). Dari situ mengarah ke kampus IISIP trus muter balik lagi ke arah Margonda/Kampus UI. Oooo sekarang gw tau … ternyata Jaka mau kita ngerasain jalur yang naik-turun dan berkelok-kelok itu. Ok dee boss …
Sampai di perempatan Kampus UI kita ambil jalan terus melintasi Jl. Raya Margonda kemudian belok kiri ambil jalan baru yang ke arah Jl. Raya Bogor. Cihuuuyyy … jalanan baru yang mulus itu kita libas dengan kecepatan maksi masing-masing (perlu gw tulis maksi masing-masing … karena EX gw pastinya Top Speednya ga seperti yang laen hehehe … maklum jeroan CVT masih tandar).
Hanya beberapa menit melintas di jalan baru, kita sudah masuk ke Jl. Raya Bogor belok ke kanan ke arah Bogor. Nah di sini jalanan sudah mulai ramai, karena kalo ga salah jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Pastinya di daerah pinggiran kota begini, orang sudah sibuk mencari sesuap nasi lagi (emang di kota … yang masih tetep molor meski kantong juga kosong … hihihihi).
O ya .. kalo ga salah, di jalan baru tadi, Opa sudah ambil alih RC dengan EX-nya. Jadi pas di jalan menuju bogor ini, Opa sudah ngacir bak kuda liar meninggalkan kita-kita ini. Secara gw orang baru di dunia persilatan JJI kayak gini, gw juga coba ikutan ride-style nya Opa ini. Ternyata cukup melelahkan juga … soalnya beda kasta sih jeroan CVT kami bedua (meski sama2 EX).
Sepanjang jalan menuju Bogor ternyata tidak mulus. Banyak sekali jalan-jalan yang dipenuhi oleh kendaraan angkot dan truk-truk. Sehingga macet terjadi di beberapa titik, rombongan pun harus terpecah-belah beberapa kali. Akhirnya sebelum masuk ke arah Ciawi, Opa berinisiatif berhenti menunggu semuanya kumpul. “Salah rute nih kita,” ujar Opa. “Harusnya kita ambil jalan Tajur ajah. Lebih sepi dan lancar.” Adi dan Ubay berpikiran sama, begitu juga dengan yang lain. Menurut gw? Meneketehe!!! Wong, ini aja udah seneng banget kok …hihihi
We’ll be right back – part 2 : Franky, Sang Sweeper
Minggu, 26.08.07

- dijepret oleh Jaka & Dody -
Ah, malas rasanya bangun setelah tidur lelap semalaman. Buka gorden, menikmati pemandangan laut dari kasur. Begitu mulai terang, baru deh keluar dan jalan-jalan lagi di pinggir pantai. Ketemu Wagni yang tiap pagi menatap matahari pagi, katanya bisa mengurangi minus. Pantai masih sepi, kepiting kecil-kecil masih malas keluar dari sarangnya di bawah pasir. Maksud hati sih mau menyusuri tepi kanan pantai sampai ujung, tapi semakin lama, pantai makin sempit dan banyak karang. Karena berjalan tanpa alas kaki, cukup sampai ke bagian yang masih bisa dilewati. Kerang sudah terkumpul cukup banyak, lagipula, kalau terus ke ujung takut ketemu biawak seperti rombongan Jaka kemarin sore.
Kembali ke kamar. Pak Wik mempelopori membawa motor ke depan kamar dan mulai membongkar motornya. Yang lain jadi ikutan, tapi nggak ikutan mencuci motor dibawah shower depan cottage seperti Pak Wik. Paling banter membersihkan mika helm dan windshield dengan kanebo serta menepis debu dengan kemoceng dari kamar hotel. Enaknya kalo liburan bersama, kalau ada apa-apa, ada temennya. Kalau butuh octane booster, ada di Pram, bisa saling pinjem kanebo, pinjam sekring dan X. Masing-masing juga udah siap dengan obat dan vitamin, dari obat pusing, obat maag, sampe obat alergi dan vitamin C.
Jam 9 kita kembali sarapan di restoran. Menu kali ini adalah menu semalam yang masih tersisa seperti ayam dan ikan bakar. Sebagai tambahan, tadi kita sudah memesan telur dadar, telur mata sapi dan kerupuk. Sarapan kali ini enak banget. Opa dan Febri memesan telur setengah matang untuk mendongkrak stamina.
Selesai makan, dilakukan perhitungan biaya seperti biasa dilakukan kalau JJI. Kita dapat diskon kamar dari hotel yang kemudian disubsidi silang ke makanan sehingga terasa tidak mahal. Untuk segala biaya termasuk sewa perahu, semua peserta setuju menanggung biarpun mereka tidak ikut menikmatinya. Beberapa bahkan menanggung sendiri biaya membeli es kelapa, batu es dan cemilan. Makasih ya.. Bagi peserta yang tidak membawa cash, dipersilahkan mengambil dana di atm terdekat saat pulang untuk mengganti dana yang ditanggung sementara oleh Opa.
Setelah semua perhitungan beres, kita berjanji berkumpul lagi jam 11 di depan restoran, kemudian bubar untuk persiapan kepulangan. Yang sudah beres kembali duduk di tepi pantai seolah nggak mau rugi menikmati pantai sampai detik terakhir keberangkatan.
Jam 11 kembali ke depan restoran dan berfoto bersama dengan latar belakang kolam renang tepi pantai. Lokasi foto yang paling masuk akal dibanding harus berfoto di pinggir pantai. Selesai foto, kita briefing sebentar untuk pulang, berdoa bersama kemudian toss bareng untuk semangat. Maka bersiaplah JJI-ers kembali ke Jakarta.
Dengan dilepas hampir seluruh pegawai hotel, rombongan meninggalkan Ciputih Beach Resort. Adi berada paling depan sebagai RC, katanya siap menjaga tempo perjalanan pulang. Rombongan berjalan pelan karena kondisi jalan yang cukup rusak dan mengingat isi tangki hampir semua peserta yang pas-pasan. Jarak masing-masing motor cukup dekat dan ini dimanfaatkan untuk dokumentasi.
Tiba di pom bensin pertama setelah Ciputih, yaitu di daerah Saketi, ternyata Premium habis. Bahkan warung di pinggir jalan yang menjual bensin eceran tepat di depan pom tersebut juga kehabisan premium. Wah, krisis bensin ternyata sampai juga di Banten. Rombongan berjalan lagi setelah dapat petunjuk ada yang menjual bensin eceran sekitar 500 meter di depan. Pas sampai di warung tersebut, motor Adi mati kehabisan bahan bakar. Nyaris semua anggota rombongan mengisi bensin, termasuk Pak Wik. Waktu JJI ke Cirata, Pram dan Pak Wik sempat mengecer bensin di tengah jalan, tapi hanya Pak Wik yang diabadikan. Kali ini Pak Wik mengajak teman-teman untuk didokumentasikan sedang jajan bensin di pinggir jalan. Octane booster-nya Pram ikut beraksi demi menjaga stamina bahan bakar.
Melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian kita menemukan pom bensin yang menyediakan Premium dan Pertamax, hanya saja Pertamaxnya habis. Ramai-ramai rombongan mengisi tangki bahan bakar sampai pol. Sejenak beristirahat di pom bensin tersebut, kita membicarakan masalah ban motor EX Wagni yang benjol-benjol. Sepulang dari Cirata ban tersebut sudah peyang dan saat perjalanan ke Ciputih kemarin sempat menghajar lubang sehingga kondisi ban makin parah. Opa menyarankan agar laju kendaraan dikurangi sambil mencari tempat yang menjual ban vespa.
Di pertigaan Tarogong, rombongan berhenti untuk menunggu Wagni yang membeli ban. Ban luar vespa tampaknya sulit ditemukan di sekitar sana, jadi dia membeli ban dalam. Akhirnya rombongan terbagi dua, Wagni, Pak Wik dan Moko mencari tempat untuk menambal ban, sementara sisanya menuju restoran di dekat pertigaan tersebut.
Waktu telah menunjukkan pukul 15.00, waktu makan siang sudah lama lewat. Tadinya kita ingin makan lagi di warung yang sama seperti waktu berangkat, tapi karena masih jauh kita mencari alternatif lain demi kesehatan bersama. Restoran Padang itu bernama Pondok Salero, tidak terlalu besar tapi cukup menampung semua rombongan. Biasanya restoran Padang yang berada agak jauh dari kota besar, memiliki rasa yang biasa saja karena terpengaruh masakan setempat. Tapi restoran ini ternyata dimiliki oleh orang Minang asli, jadi rasanya cukup terjaga.
Saat sedang asik makan, mendadak Opa pindah ke kursi paling belakang sambil membawa Oxycan. Mukanya pucat dan berkali-kali menghirup dari kaleng oksigen cilik. “Oksigennya nggak sampe ke kepala,”jelas Opa. Kemudian beliau minta dipijat oleh Dody yang akhirnya resmi jadi pemijat pribadi Opa. Balsem dan minyak kayu putih langsung muncul. Kemudian karena curiga sakit maagnya kumat, saya inisiatif membuat oatmeal instant yang kemudian hanya disentuh sedikit. Sayangnya, saya tidak ingat untuk mengeluarkan obat maag farmacrol tablet yang selalu dibawa saat bepergian. Kami cukup panik dengan kondisi Opa.
Sempat ada pembicaraan untuk menyewa truk untuk mengangkut motor Opa, sedangkan Opa dibonceng oleh anggota Rombongan lainnya. Pak Wik yang telah muncul direstoran mengusulkan agar Opa dibawa dengan Ambulan. Weits, Opa langsung sehat mendengarnya, langsung merokok G2 hijaunya lagi. Apalagi saat ada rombongan moge lewat dengan sirenenya, Opa makin gagah aja.
Rombongan kecil Wagni mendapat kendala saat akan mengganti ban dalam, ternyata ban yang dibeli telah robek. Mereka kembali harus mencari dan untungnya berhasil. Adi yang telah selesai makan bermaksud menggantikan Pak Wik menemani Wagni agar bisa makan siang dulu. Iruul kemudian menyusul bermaksud menggantikan Moko dengan berbekal 2 porsi nasi bungkus. Tidak lama Iruul pergi, Moko sudah tiba di restoran langsung memesan makanan. Rupanya dia berpapasan dengan Iruul di jalan tapi tidak berhenti. Tidak lama, Adi, Iruul dan Wagni muncul, siap melanjutkan perjalanan.
Pukul 16.00 rombongan jalan lagi. Rute kali ini tidak sama dengan rute berangkat. Kita berusaha mencari jalan yang cepat sampai dan ini berarti mengambil jalan yang lebih banyak trek lurus dan lebih mulus, tapi berarti lebih ramai karena merupakan jalur utama dan pastinya melewati kota besar. Seperti yang diduga, rombongan berkali-kali melewati pasar, terminal, harus menyalip susah payah dari bis dan truk yang ngotot. Rombongan juga beberapa kali istirahat di tepi jalan untuk menjaga stamina (opa).
Saat Maghrib, kembali rombongan mengisi bensin di daerah Balaraja. Kali ini mengisi dengan pertamax sampai penuh. Mumpung ada mesjidnya, kita istirahat sambil menunggu peserta yang menunaikan shalat. Sekali lagi Opa dipijit oleh Dody, yang harus balik arah lagi karena tadi keterusan dan tidak berhenti di pom bensin. Opa biarpun sakit, tapi kalau sudah menunggangi motornya, minimal cepek lah, kaya’ pak ogah..
Rombongan kembali berhenti di daerah Serang untuk menemani yang mengambil dana di atm. Kesempatan ini digunakan untuk istirahat karena jalanan cukup padat biarpun hari minggu.
Memasuki Jakarta sudah gelap dan tidak bisa cepat. Sungguh bukan rute yang bisa dinikmati. Belum lagi beberapa motor seperti tidak siap untuk jalan malam. Di halte kebun jeruk dekat bebek goreng Yogi, rombongan berhenti sebentar untuk berpamitan. Rombongan akan terbagi dua, Pram, Echa, Ubay, Wagni, Pak Wik menuju Jakarta Pusat/Timur dan Opa, Adi, Moko, Dody, Jaka, Iruul menuju Jakarta Selatan. Sempet merasa sedih karena lokasi pamitannya kurang asik. Kalo pamitan di Citra Indah baru afdol, he he..
Rombongan Jakarta Pusat/Timur melewati Permata Hijau terus ke arah Pejompongan. Pak Wik berbelok ke jalan Casablanca menuju rumahnya di Pondok Bambu. Pram, Echa dan Wagni menggeber motornya sehingga serasa sedang JJI. Mungkin mumpung jalanan agak sepi.
Perjalanan menuju Manggarai agak terganggu karena ada perbaikan jalan di jalur non-busway sehingga trafik dialihkan ke jalur busway. Namun sekitar 200 meter kemudian trafik kembali ke jalur biasa. Rupanya Pram, Echa dan Wagni tidak mengambil jalur itu dan tetap berada di jalur busway. Ubay dan saya melewati jalur biasa dan melihat ketiga motor terjebak diantara dua busway. Karena berpikir mereka akan baik-baik saja, LX Penjahat tetap jalan terus dengan kecepatan biasa. Tapi curiga juga karena tidak ada tanda-tanda disusul padahal sebelumnya Pram akan selalu touring style. Ternyata mereka tertangkap polisi, halah.. Cerita selengkapnya bisa didapat dari Pram, Wagni dan Echa.
Yang jelas begitu sampai rumah, nggak bisa langsung masuk karena kunci rumah dibawa belanja ke Carrefour. Begitu bisa masuk rumah rasanya lega banget bisa mengistirahatkan pantat ini. Tapi juga ada rasa kangen pada Ciputih, karena begitu masuk kamar tidak ada pemandangan langsung ke laut.
Demikian cerita JJInya, Jalan-Jalan Iseng, orang-orang aneh yang menyukai Kymco dan temennya punya Kymco dan akhirnya jadi dekat karena seleksi alam. JJI ini udah yang ke 4 kalinya, tapi baru kali ini dituliskan. Foto-fotonya sih banyak dan mungkin bisa lebih berbicara daripada sekedar tulisan. Semoga yang membaca merasakan kegairahan yang sama dengan kami, merasakan persahabatan dan kalo bisa merasakan kecape’an juga.
Silahkan lho buat yang mau memberi masukan dan saran..
Sabtu, 25.08.07

Bangun tidur, wuahhh, tidurnya enak banget. Buka jendela langsung lihat laut, leyeh-leyeh di tempat tidur lagi deh. Kapan lagi bisa begini, punya kamar dengan sea-view. Boro-boro pemandangan, jendela aja ketutupan lemari.
Dengan malas keluar kamar, ternyata udah ada yang main di tepi pantai. Kita samperin trus main-main di tepi pantai sebelah kiri cottage. Nyari kerang sambil foto-foto di bagian pantai yang banyak karang. Ternyata di sana lebih banyak jenis kerang daripada di bagian pantai pasir. Pantai depan kamar memang bebas karang dan pasirnya putih lembut. Kehebatan lainnya, pantai di sini bersih nggak ada sampah. Beda banget dengan pantai di Ancol. Wah, di Ancol sih, jangankan berenang, merendam kaki aja males takut korengan.
Sekitar jam 8 kita ke restoran lagi buat sarapan. Lokasi restoran tidak begitu jauh dari kamar dan di depannya ada kolam renang tepi pantai. Cocok banget buat foto-foto dan lebih cocok lagi buat berenang. Sarapan pagi ini nasi goreng yang rasanya biasa-biasa saja dan walaupun dibantu menu sate ayam semalam, tetap nggak napsu makan. Tapi bro Pram dengan luar biasa menerima sumbangan menu dari siapa saja yang berminat menyumbang. Salut !
Selesai makan, yang lain kembali ke pantai. Saya dan Ubay ganti pakaian renang lengkap dengan kacamata renang minusnya. Tadinya kita mau renang di kolam depan restoran, tapi karena semua sedang di pantai, jadinya kita duduk di pinggir pantai. Semua cowok sudah nyemplung di laut. Tinggal Ayu, Febri dan saya di pinggir pantai. Nggak tahan pengen ikutan main di laut, saya tarik Febri ke laut. Dia rada takut main di laut karena trauma pernah ngalamin gempa waktu di pantai. Kasian karena Febri udah hampir mau nangis, saya nyemplung sendirian. Kemudian Ayu menemani Febri ke laut dan ternyata lebih berhasil. Gimana nih, Adi.. bukannya dia yang nemenin Febri.. Tapi akhirnya kita semua bersenang-senang di laut.
Ada yang udah pinter berenang tapi belum pernah nyemplung di laut, ada yang belum bisa berenang tapi modal nekat, ada yang trauma dan ada juga yang bisa berenang ala berang-berang. Yang penting semua menikmati pantai yang bersih, laut yang biru, langit yang cukup bersih. Perfect holiday.
Setelah beberapa lama berenang dan merasakan asinnya laut, saya dan Febri pindah ke kolam renang tepi pantai diikuti Ubay, Doddy, Moko dan Jaka. Kolam renang juga sepi, serasa pemilik banget. Setelah beberapa lap (cieee..), Adi muncul ngasih tahu kalau kita sudah menyewa dua perahu tradisional ukuran kecil selama seharian. Kita pindah lagi deh ke pantai.
Sampai di pantai ternyata perahu sudah melaut. Adi berpasangan dengan Dody, Echa dengan Wagni dibantu Pram dari belakang alias bergelayutan di ekor perahu, entah dorong entah malah menahan laju. Sepertinya cukup seru juga melihatnya. Dengan susah payah, mereka berusaha mendayung hanya dengan satu dayung kecil di masing-masing perahu. Lama banget baru bisa sampai ke pantai lagi. Yang jelas besoknya mereka merasakan pegal-pegal di lengan dan bahu.
Berikutnya, Moko dan Dody melaut ditemani Iruul menggantikan posisi Pram di belakang perahu. Tapi hari makin siang, matahari makin tinggi. Pengen sih main perahu, tapi nanti sore aja deh biar nggak gosong. Maka permainanpun pindah ke tepi pantai. Kali ini judulnya “Mari mengubur Jaka dan Pram”. Wah, semua sibuk, ada yang menggali-gali pasir, ada yang menimbun, ada yang menggambar pasir dengan jari, ada yang mencari batok kelapa dan kulit kelapa untuk hiasan, ada yang bawa “mainan”, ada yang mendokumentasi dan ada juga yang hanya memberi instruksi. Pram dan Jaka hanya bisa pasrah, tapi kaya’nya mereka menikmati semua perhatian. Hanya kali ini aja kok, Pram, Jek..
Puas main pasir, kita balik ke kamar untuk bersih-bersih. Siang ini makan siang diundur jadi jam 4 karena makan malamnya agak telat. Walhasil sampai jam 4, cari menu sendiri. Febri dan saya inisiatif mau tanya menu yang tersedia di restoran untuk makan siang. Ternyata di sana tidak tersedia apa-apa. Mungkin karena bukan musim ramai pengunjung, jadi mereka terkesan tidak siap dengan bahan makanan. Akhirnya kita keluar dari area hotel, ke warung yang berada sedikit menyebrang jalan depan gerbang hotel. Untung di warung itu bisa memasakkan mie instan biarpun tanpa telur. Kita pesan dua porsi dan menunggu sambil memperhatikan anak-anak smu yang baru pulang sekolah. Nggak lama pesanan muncul dalam kantong kresek !! Yah, daripada nggak makan, kita kembali ke kamar dan makan bersama pasangan masing-masing.
Abis makan, kok rasanya ngantuk ya.. Ya udah kejadian deh, bobo-bobo siang, nggak cuma Adi yang bisa begitu. Tidurnya enak banget, biarpun sebentar tapi pules banget. Jadi bangun tidur rasanya udah segar dan siap kembali ke pantai. Anak pantai banget deh.
Kembali di pantai, ternyata ada cerita seru. Selesai main di pantai, saat saya dan Ubay bbs, beberapa masih main di pantai. Tak lama Pak Wik keluar dari kamarnya menuju kamar Opa, setelah sebelumnya menelpon tidak diangkat. Ternyata di kamar Opa tidak ada siapa-siapa dan saat Pak Wik melihat ke pantai, dia tidak mengenali wajah teman-temannya yang masih berkumpul. Kemudian Pak Wik menuju restoran sekalian mencari ganjalan perut. Lama sekali Pak Wik nggak muncul dan ternyata beliau asik ngobrol di restoran. Tadinya beliau juga mencari menu makan siang, tapi karena nggak ada makanan, Pak Wik cukup makan angin ngobrol dengan petugas hotel yang ada di sana. Pak Wik juga tidak sadar kalau di pinggir pantai masih ada teman-teman JJI yang berkumpul. Mungkin karena terlalu lapar. Cerita selengkapnya, monggo Pak Wik..!
Udah jam 4 dan waktunya makan siang yang tertunda. Kali ini lokasi makan berubah jadi di depan kamar kita dan di dekat pantai. Lokasi udah asyik, sayangnya menu makanan masih biasa-biasa saja padahal yang dipesan memang hanya mie instant. Ternyata 1 menu dibuat dari dua bungkus mie instant. Kebayang gimana banyaknya menu. Buat yang memesan mie goreng, ternyata bukan dibuat dari mie goreng instant tapi dibuatkan seperti mie goreng biasa yang rasanya sama dengan nasi goreng tadi pagi, biasa dan hambar. Biar deh, yang penting makan barengnya, ngumpulnya dan lokasinya dong !!
Setelah makan, kembali ke pantai depan cottage yang sepertinya jadi markas tempat berkumpul. Beberapa anak kecil berenang telanjang di dekat kami. Tak lama mereka semakin dekat dan semakin banyak gaya. Ternyata mereka sadar kamera, karena Jaka sedang asik mengabadikan mereka. Anak singkong, kalau kata Opa.
Sambil menunggu matahari agak turun, kali ini saya dan Ubay jalan ke tepi pantai sebelah kanan cottage yang juga banyak karang dan juga ada dermaga. Saat berjalan, kami menemukan pakaian anak-anak singkong. Iseng, saya umpetin di atas pohon. Jangan pikir saya akan manjat pohon demi ngumpetin baju mereka, cukup lempar dikit aja kok. Kemudian saya lanjut menuju dermaga yang ternyata udah lapuk dan tidak layak untuk foto session. Jadi cukup foto-foto dan cari kerang di dekat dermaga yang juga banyak batu karang besar-besar.
Puas foto-foto, kita kembali ke depan cottage dan siap-siap bermain di laut lagi. Ubay dan Pak Wik mencoba kemampuannya jadi nelayan. Setelah itu saya dan Ubay melaut. Terakhir saya naik perahu waktu kelas 3 SD di danau Maninjau berdua saja dengan sepupu. Pengalaman naik perahu kali ini beda, seperti perayaan 3 tahun pernikahan yang tepat hari ini. Memang katanya menikah itu bagaikan menempuh laut dengan bahtera, maksudnya ada yang bisa jelasin ?
Ubay lanjut lagi melaut dengan Adi. Tidak lama, semua berenang lagi sambil menunggu matahari terbenam. Rombongan Jaka, Moko, Dody dan Wagni ternyata trekking ke sebelah kiri pantai untuk mengejar matahari terbenam. Kita minta cerita lengkapnya, katanya mereka ketemu biawak. Sementara itu, yang tersisa di pantai dengan kamera seadanya mengabadikan matahari terbenam. Opa memimpin acara dadah-dadah dengan matahari. “Good bye sun, thank you and see you tomorrow.”
Selesai upacara sunset, kembali membersihkan badan dan bersantai-santai. Apalagi acara yang ditunggu kalo bukan acara makan malam yang akan diadakan di tepi pantai. Barbekyu lho. Tapi berdasarkan pengalaman dengan sarapan dan makan siang yang biasa-biasa aja, kita semua udah sepakat untuk mengawasi acara bakar-bakaran.
Kurang lebih jam 8, keluarga besar JJI makan malam. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini menunya super enak. Ada Kepiting saus tiram yang rasanya juara. Opa bolak-balik nambah dan Wagni belajar menikmatinya pertama kali. Ada cumi besar yang dibakar, ikan Kuek bakar dan terakhir menunya Wagni yang nggak terlalu doyan ikan, Ayam bakar. Karena campur tangan semuanya, baik dalam minta tambahan jeruk, kecap, dokumentasi, penerangan, ataupun hanya ngerecokin saja, makan malam kali ini cukup sukses.
Dengan kenyang, kita kembali ngumpul di tepi pantai. Kali ini lampu neon tepi pantai menyala jadi kita bisa berkumpul dengan asik. Padahal kalau lampu neonnya tidak menyala, pemandangan langit akan lebih terlihat seperti di planetarium.
Seperti biasa, saat berkumpul, saat bercengkrama, saat bercanda dan mencela-cela teman sendiri. Cerita masa depan, cerita masa lalu, cerita lucu, cerita seram, semuanya ada. Rasanya liburan kali ini lengkap banget dan semua seperti menikmati setiap detiknya. Kita sempat membicarakan acara JJI selanjutnya yang akan diadakan setelah lebaran. Saat puasa, JJI libur dulu (bener nih?). Ada beberapa kemungkinan untuk JJI selanjutnya yaitu Pangandaran dan Ciater. Saya mah yang mana aja yang asik !
Echa dan Ayu membagikan JD bagi yang berminat, malam jadi semakin hangat dan obrolan makin ngalor ngidul.
Sekitar jam 10 kita bubar dan kembali ke kamar. Saya sempat keluar lagi untuk mengambil minum dari galon yang ada di teras kamar Opa. Kamar-kamar lain tampak sudah sepi dan gelap, kaya’nya nggak ada game Uno malam ini. Mungkin semua sudah terlelap setelah seharian main di pantai. Ikut tidur ah.. Jadi sampai besok semua !.
Jumat, 24.08.07
- dijepret oleh jaka -Jam 4 pas alarm berdering, sungguh nyebelin karena tidurnya kurang sip. Mungkin terlalu semangat untuk acara pagi ini. Dari H-2 persiapan udah gila-gilaan, menyiapkan pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan dan sedikit cemilan. Ubay bahkan memanfaatkan matanya yang bengkak buat bolos di H-1, mau bongkar-bongkar dan cuci LX Penjahat kesayangan.
“Meong.. meong..’” hp Ubay mengeong. Ternyata ada sms dari Opa Al. Beliau siap jadi RC, asyiiiik dijamin nggak nyasar. Padahal Opa udah lama kurang sehat. JJI ke Cirata beliau sempat absen karena sakit (nyasar deh kite). Bahkan H-1 kemarin Opa sempat ragu mau berangkat atau nggak, naik motor atau bawa mobil, kloter 1 atau kloter 2 atau hari Sabtu bareng Arif. Sarapan, the most important meal of the day, belajar dari JJI sebelumnya. Roti dan teh manis hangat, cukup mengganjal sampai pemberhentian berikutnya. Biasanya kalau JJI waktu makan bisa berubah-ubah tergantung kondisi di jalan.
Berangkat ke meeting point sambil celingukan cari atm karena katanya di Ciputih itu jauh dari peradaban. Tapi baru sadar kalau dibawah jam 7 atm nggak ada yang buka. Untung di PI ada drive thru-nya atm Mandiri.
Tiba di meeting point paling belakangan, jadi begitu sampai langsung siap-siap berangkat. Nggak sempat nyobain risol bawaan Pram. Kita briefing dan berdoa sebentar sebelum berangkat. Opa jadi RC dan Moko jadi Sweeper. Denmas Franky yang biasanya hobi jadi sweeper, absen di JJI kali ini menunggu kelahiran anak ketiga. Peserta yang berangkat di kloter pertama pagi ini : Opa Al, Echa dan Ayu, nyemplak MX; Jaka, Moko, menunggangi Legend, Pram dengan Trend SR; Wagni dengan EX-nya, Ubay dan Lani naik LX; plus Dodi dengan Yamaha Nouvo. Iruul akan bawa Trend SR-nya bertemu dengan rombongan di Pom Bensin Petronas Pondok Cabe.
Perjalanan di mulai !!
Jam 6 teng rombongan melewati Pondok Indah yang masih sepi. Begitu memasuki daerah Lebak Bulus, ternyata lalu lintas mulai padat dengan orang-orang yang berangkat kantor. “Biasanya nggak begini nih..” mungkin batin peserta rombongan. Iyalah, biasanya kita kan jalan hari Sabtu. Kali ini kan berangkat hari Jum’at, hari kerja. Situ enak bolos buat JJI..
Selain padat, jalan di daerah Pondok Cabe juga terbilang sempit untuk 2 jalur. Biarpun kita ada di jalur sepi tapi di jalur sebaliknya menuju Jakarta amat padat bahkan mengambil jalur lawan. Jumlah kendaraan bermobil cukup banyak tapi jumlah kendaraan bermotor amat luar biasa. Tahu sendiri gaya motor di tengah kemacetan, maunya nyempil dan serobot sana sini.
Kalau ada kendaraan besar di depan, jangan harap bisa mudah menyalip. Wagni sempat “pasang badan” melintangkan Symco di depan bus supaya anggota rombongan bisa menyalip dan melanjutkan perjalanan dengan cepat.
Tidak seperti biasanya, perjalanan ke Bogor terasa lama karena kondisi jalan yang lebih padat. Sepertinya di setiap terminal, pasar, sekolah dan pabrik, kita harus macet-macetan dan berebut jalan. Pram sempat mengeluarkan jurus tendangan tanpa bayangan ala jet li ke angkot yang tidak mau memberi jalan di depan pasar Parung. Rasanya semrawut banget dan rombongan kocar-kacir.
Sepanjang jalan, matahari bersusah payah muncul dibalik awan abu-abu. Sempet deg-degan takut hujan karena beberapa hari sebelumnya cuaca terus hujan dan sempat ada perbincangan seru di ym soal jas hujan. Untungnya sepanjang jalan kita tidak kehujanan dan juga tidak kepanasan karena cuaca agak mendung.
1,5 jam sampai di Bogor, rekor baru yang kurang membanggakan. Kita istirahat sebentar di pinggir jalan. Acara istirahat selalu diisi dengan mengecek kendaraan masing-masing, minum, makan permen, merokok, nelpon dan sms. Echa yang baru sekali ini bawa rantang, merasa performa MX kurang maksimal padahal perjalanan masih jauh. Sepertinya MX Echa turun pangkat dari sersan menjadi kopral.
Hm… rantang, kok rasanya kurang sreg ya. Kesannya bisa ditenteng atau ditinggal semaunya. Padahal boncenger itu amat penting, bisa jadi navigator, fotografer, bahkan cheerleader dan jaket hidup di jalan.. Bahkan sebenernya boncenger bisa buat uji kemampuan kendaraan di jalan. Motor dan skill rider belum teruji sempurna kalo belum bawa boncenger. Peer buat para biker buat ganti ah istilah rantang. Partner rasanya lebih terhormat.
Kembali ke jalan. Di Bogor, Opa sempat salah jalan menuju Leuwiliang karena sudah lama nggak lewat sana. Untung Opa bukan Franky yang kalo nyasar cari referensi di warung sebelah. Opa tanya tukang parkir dan rombongan langsung balik kanan menuju Leuwiliang. Di jalan, Opa melaju kencang sendirian, itupun masih kurang puas karena merasa MXnya kurang lari (???)..
Tak lama kemudian kita isi bensin dan istirahat di pom bensin Leuwiliang. Untung Pram bawa risol goreng dan ollie ballen (bener nggak nih tulisannya, Pram?). Pram mengaku sebelum berangkat menyempatkan diri menggoreng demi stamina rombongan. Dody dan Moko menyempatkan diri mengambil foto dan video rombongan.
JJI dilanjutkan masih dengan formasi kocar kacir. Opa melaju kencang di depan, sementara Echa terengah-engah di belakang. Sebagai sweeper merangkap fotografer, Moko jelas keteteran. Apalagi pemandangan mendadak jadi indah dengan perkebunan kelapa sawit membentang di sisi kiri jalan. Sayang bila tidak diabadikan. Akibatnya nyaris semua anggota rombongan bertindak sebagai penanda jalan. Alias, di setiap tikungan yang meragukan, pasti ada satu yang “berkorban” menunggu seluruh anggota belok semua. Untung saja masing-masing peserta memiliki ciri khas yang lumayan kelihatan dari jauh.
Jam 11 tiba di pinggir Rangkas Bitung dan minggir di warung sederhana untuk makan siang. Opa, Ubay, Iruul, Dody tiba lebih dulu. Satu persatu sisa rombongan lainnya muncul. Biarpun belum lapar, perut tetap harus diisi karena jadwal makan bisa berantakan kalau di jalan. Untung, menu warung cukup bersahabat bahkan ada juice strawberry yang segar dan murah. Opa sampai nambah. Bahkan katanya ditawarkan yang rasa mocca juga ya ??? (masih nggak ngerti)
Setelah makan siang, kita isi bensin di Pom Rangkas Bitung yang menggunakan Pertamax. Semakin lama pom bensin yang menyediakan Pertamax semakin langka. Jadi setiap kesempatan ketemu pom bensin yang ada Pertamax akan digunakan sebaik-baiknya. Pram menyediakan octane booster untuk meningkatkan mutu bahan bakar, kalau-kalau terpaksa pakai Premium.
Ubay bermaksud membawa Lxnya dengan lebih santai dan menemani pasangan bulan madu Echa dan Ayu di belakang. Tapi kondisi jalan yang kurang bagus, bikin nggak sabaran ingin cepat-cepat melewati. Apalagi ternyata berada dibelakang Echa ternyata bikin ngantuk. Ubay melesat melewati Jaka dan Pram dan nempel dekat Opa. Maksudnya biar nggak ngantuk, tapi ternyata berada dibelakang Opa di jalan yang berliku-liku malah bikin Partner belakang ngantuk, serasa di ayun-ayun. Hingga akhirnya,”gubrak!!” LX melompatin polisi tidur dekat sekolahan.
Perjalanan dilanjutkan kurang lebih dengan tempo yang sama. Opa melesat di depan, yang lain mencoba mengimbangi tapi tetap saja kocar kacir. Saking garangnya Opa di atas MX , dua anak abg dengan Satria FU dan Mio merasa tertantang dan mencoba mengajak Opa balapan. Cerita selengkapnya silahkan cek ke Opa tapi yang jelas begitu kita berhasil nyusul, Opa sudah turun dari motor dan berteriak memanggil kedua anak abg yang ngacir ketakutan.
Memasuki Panimbang, mendadak pemandangan laut dan pantai mengintip dari pinggir jalan. Hampir semua rombongan merasa gembira karena merasa perjalanan tinggal sebentar lagi. Daerah tersebut cukup ramai karena sempat terlihat pasar dan minimarket. Sejenak orang kota merasa lega setelah berjam-jam melibas hutan Banten.
Di pom bensin terakhir sebelum Ciputih di daerah Saketi, rombongan berhenti untuk isi bensin biarpun hanya Premium yang tersedia. Karena petugas pom sedang shalat Jum’at, kita menunggu cukup lama, lumayan untuk istirahat. Di depan pom bensin ternyata ada kantor KUA. Jadi kalau Echa berminat, silahkan…
Begitu petugas muncul, ramai-ramai peserta JJI mengisi bensin kemudian jalan lagi.
Opa kembali memimpin. Mendekati daerah Sumur jalan semakin berliku, naik-turun dengan drastis dan menikung tajam. Sayang, tidak semua jalur mulus teraspal. Mengejar Opa dan Pram, rasanya seperti sedang solo touring naik kuda. LX Penjahat beberapa kali terbang dan menghajar lubang-lubang jahanam di jalan. Pantat mulai kencang dan kaki terasa kaku karena tidak bisa istirahat di medan seperti itu. Partner harus siap beraksi layaknya seorang daredevil. Duh, mau nangis rasanya menahan capek. Untuk menghibur diri, saya menghitung papan petunjuk cukup besar menuju Sumur yang ada di hampir setiap 10 menit perjalanan. Senang rasanya begitu papan itu habis, karena di sana Opa sedang santai menunggu seluruh anggota rombongan berkumpul.
Begitu semua muncul, Opa memberi briefing bahwa perjalanan selanjutnya tinggal 5 menit lagi namun dengan kondisi yang agak rusak. Kita harusnya tahu kalo 5 menit ala Opa itu berarti 3 kali lipatnya. 5 menit ternyata berubah menjadi 15 menit yang sengsara karena kondisi jalan amat parah nyaris menyerupai jalanan di sekitar TPA Rajamandala (baca: JJI episode Cirata). Pantas setelah briefing Opa sampai nggak jadi merokok karena membakar rokoknya dengan terbalik.
Saking seriusnya melewati jalan rusak, sampai kita tidak melihat hotel yang ada di sisi kanan jalan. Memang sih bagi yang pertama ke sana tidak akan menyangka kalau di balik pagar besi yang tinggi dan hutan pantai yang cukup lebat akan ada hotel. Apalagi petunjuk nama hotel hanya di cat di tembok biasa seperti grafiti dibelakang truk saja.
Akhirnya kita semua beloklah ke dalam hotel dan langsung disambut oleh petugas sekuriti merangkap front office, fnb dan bellboy. Opa langsung mengurus pembagian kamar dan akhirnya kita semua mendapat kamar yang tidak berjauhan, sederet di depan pantai. Pak Wiwik di kamar nomer 2, Ubay+ Lani 3, Adi+Febri 4, Wagni+Pram+Iruul 5, Echa+Ayu 6, Jaka+Moko+Dody 7 dan Opa di kamar nomer 8.
Waktu kedatangan di hotel sekitar pukul 14.40 WIB. Lama perjalanan sekitar 8 jam dari perkiraan 7 jam dengan istirahat berkali-kali.
Dengan lega kita menuju cottage masing-masing dengan motor setelah sebelumnya berjanji bila malam akan memarkir kendaraan di dekat pos sekuriti di depan. Pemandangan indah sudah menunggu. Pantai dengan pasir putih yang sepi terhampar tepat di depan kamar. Walaupun deburan cukup keras, tapi ombak tidak terlalu besar sehingga cocok untuk bermain-main di tepi pantai. Area hotel yang mencakup pantai yang cukup luas sehingga memberi rasa privacy layaknya di hotel bintang 5 di Bali. Okupansi hotel hari ini hanya rombongan JJI, jadi kita serasa memiliki hotel dan pantai.
Selesai bongkat muatan dan mandi, kita bermain di pantai sambil terus memantau kloter 2, pak Wiwik, Adi dan Febri yang berangkat sekitar jam 11 siang. Opa mentraktir es kelapa dan langsung memesan menu untuk makan malam ini dan besok. Beberapa JJI-ers memilih istirahat di kursi panjang tepi pantai, ada yang jalan-jalan di bibir pantai dan ada juga yang nyemplung ke laut. Tim dokumentasi juga sibuk mengambil gambar matahari terbenam.
Oh iya, Pram sempat kenalan dengan pengelana dari Bandung yang katanya berjalan kaki sampai Ciputih ini. Inget nggak, Pram ? Kalian akrab bener..
Liburan di Ciputih ternyata juga bermanfaat menambah ilmu pengetahuan bagi salah satu peserta JJI. Ternyata kepiting itu jalannya miring, teman-teman !! Waw… (Damai, Ay..)
Menjelang maghrib, mata mulai berat dan ingin tidur. Tapi karena sedang memantau kloter 2, harus siap menerima sms atau telpon. Biar nggak ngantuk nonton tv dan sempat llihat berita Raisya Ali yang selamat setelah diculik selama 10 hari. Berita cukup besar karena masuk breaking news dan presiden ikut turun tangan. Sekitar jam 18.30 Febri sms minta ditunggu di depan hotel karena mereka telah berada di jalanan rusak. Tak lama mereka muncul dengan ekspresi lega karena telah melewati medan cukup berat ditambah hujan yang lumayan deras.
Makan malam di restaurant yang sepi dan menunya bukan dari restaurant melainkan menyuruh orang hotel beli di tukang terdekat. Menu malam ini sate ayam yang rada pedas, kerupuk dan kacang kulit. Ternyata menu kurang sehingga harus beli lagi. Sementara menunggu, kita review perjalanan hari ini yang cukup seru. Begitu menu muncul, kita sudah nggak semangat makan sehingga menu disimpan untuk sarapan besok pagi.
Selesai makan, kembali ke kamar masing-masing. Tapi kemudian kopdar lagi !! Di teras kamar nomer 5 Echa, Wagni, Irul, Pram sedang main gaple. Tidak mau kalah, kita memang udah niat menggangu kamar Echa, di teras kamar nomer 6 Ayu, Jaka, Febri, Ubay dan Lani main Uno. Lumayan seru, tapi tidak berlangsung lama karena mata sudah semakin sepet. Maka berakhirlah hari pertama yang panjang ini..