Monday, October 1, 2007

Noraknya Newbie JJI (Part 2)

Franky, Sang Sweeper


- dijepret oleh Lani -

Setelah semua berkumpul dan sedikit rehat sambil minum-minum (soalnya cape juga lewatin beberapa titik kemacetan), kita berangkat lagi. Kali ini rutenya ke arah Ciawi dan Puncak. Dalam hati gw, uu uuuuyyyy … dah lama banget ga ke puncak naik motor (dasar norak!), akhirnya kesampaian juga. Terakhir ke puncak saat lulus SMA dulu, itu pun diboncengin temen.

Memasuki jalan raya Ciawi, seperti biasa mulai macet. Dan seperti biasa juga, kendaraan berplat-B yang jadi biang keroknya. Makanya kalo punya duit bikin aja puncak sendiri di tengah kota Jakarta, jadi ga usah serombongan ke Jawa Barat (loh kok jadi ngomel???).

Kembali ke leeeeeppp … ke jalan lagi, tepatnya. Antrian mobil yang mo ke puncak, seperti biasa juga tidak membuat para bikers berhenti. Ilmu selap-selip dimulai. Secara kita di Jakarta udah jago banget selap-selip, ya di sini harus dipraktekkan juga. Tapi, belakangan aku baru tahu dari Opa bahwa kalau di luar kota gini, kita kudu tetep di jalur kanan. “Jangan pernah melewati kendaraan lain dari kiri, bahaya banget!” katanya. Bahkan kata Opa, secara teori, kalau kita jalan di sebelah kanan untuk mendahului kendaraan lain apa pun terjadi kita on the right track. “Jadi, kita ga bisa disalahin orang.”

Nah, ilmu baru ‘kan? Itulah gunanya JJI … hihihi .. promo neeeh.

Selama selap-selip itu gw emang sempet nyelonong lewati kiri (kan belum tau). Dan akhirnya kami sampai juga di lintasan yang indah itu, berkelok-kelok dan menanjak. Anginnya pun semilir menerpa kulit wajah yang separuh gw tutup ama bandana. Ahhh … indahnya duniaa …

O ya, tadi lupa cerita juga, bahwa selain Jaka sebagai RC yang kemudian digantikan oleh Opa, Franky sejak awal sudah ditugasi sebagai sweeper. Gw juga baru tahu bahwa anak muda yang sudah jadi bapak dua (eh tiga ding – secara tulisan ini baru dirilis setelah anak ke-3-nya lahir) anak ini paling demen jadi sweeper.

Nah, selama perjalanan ini kita kerap berhenti hanya karena si Franky ngejar ke depan untuk minta Opa memperlambat kecepatan, karena bos-nya ketinggalan jauh. Tapi, ketika sudah masuk jalur naik dan berbelok-belok ini, tak ada kata berhenti lagi. Kita hanya akan berhenti di kawasan kebon the Gunung Mas, sesuai kesepakatan, sarapan.

Jadi, kita meluncur sendiri-sendiri untuk menuju titik kesepakan itu. Gw yang udah tahu tempat itu tidak terlalu gundah merasa tertinggal dari yang lain. Soalnya, seperti motor matic pada umumnya, lebih tepatnya yang standar getoohh, di tanjakan terjal dan panjang top speednya hanya 40 km/jam saja.

LX aja yang cc-nya 110 harus susah payah dan trik bejek throttle tertentu untuk bisa mencapai top speed 60 km/saja. Eh, si Opa dengan EX yang CVT-nya, konon, sudah full NCY, ternyata melenggang dengan enaknya lebih dari 60 km/jam. Duuuhh … NCY … where are thou???

Beberapa menit berlalu bertempur dengan tanjakan-tanjakan terjal dan panjang itu, akhirnya gw landing deket pintu gerbang kawasan kebon teh Gunung Mas dengan selamat. Satu-per satu masuk ke pit. Setelah dicek, ternyata hanya tinggal si Franky yang belum muncul.

Bah??? Padahal bosnya sudah bersama-sama kita. Kemenong nih si bocah? Sempet muncul kecurigaan-kecurigaan nakal. “Wah, jangan-jangan dia mampir nih di vila,” celetuk seseorang. Yang lain nimpalin, “Bukan, justru dia yang berdiri di pinggir jalan dan teriak .. vila vila vila …” Gerrrr … Tawa kami pun memecah kesejukan udara di gunung teh itu.

Tunggu punya tunggu, akhirnya Adi berinisiatif menelepon sang sweeper. “Dimane loe?”
teriak Adi di handsetnya. Ternyata Franky mengira bos-nya masih di belakang. Kecele dieee … Beberapa menit kemudian muncullah dia dengan SR Black Rednya dan dengan cengiran kuda menghias di bibirnya.

Dua Korban Yang Terkapar

Perjalanan menuju sarapan pun dilanjutkan ke dalam kawasan kebon teh. Setelah bayar tiket dewe-dewe, kita pun menuju sebuah rumah makan yang ada di kawasan itu. Ngga banyak pilihan, sudahlah, sing penting mangan toh?

Setelah liat menu makanan, pilihan gw jatuh pada tong-say alias lontong sayur. Yang laen juga pesen masing-masing, soalnya bayarnya juga secara mandiri. Beberapa milih ngerokok dulu ketimbang pesen makanan.

Detik-detik belalu berganti menit. Menit-menit berlalu berbuah ketidaksabaran … kemane neh makanan … kok belum datang juga …??? Ah, apa kata dunia … makanan aja lama bener masaknya??? Tapi, akhirnya tong-say gw datang juga. Banzaaaiiiiii …. !!!

Setelah habis sepiring … mulailah gerilya makanan kecil-kecil. Waduh … ternyata udah pada ‘nte! Tapi, secuil-cuil gorengan bolehlah sambil liat-liat sekeliling. Nah, pas liat sekeliling ternyata pandangan mata gw tertumpu pada dua sohib yang matanya udah lima watt alias ngantuk di meja makan. Si Echa dan Giri. Penunggang MX dan BMW tuwir. Wah, kasian banget!

Lalu berceritalah Echa … pada suatu hariiii …. hehehe … Rupanya Echa dan Giri semalem tidak tidur dengan lengkap. Gara-garanya Giri betulin motor BMW-nya hingga larut malam. Dan motor itulah yang sekarang dibawa JJI. Gileeehhh!!!

Dan tiba-tiba seseorang berteriak, Cha … Ri .. tuh tidur di bawah pohon sana .. enak tuh. Mereka pun melihat tempat yang ditunjuk. Gw juga liat tempat itu, ah, beneran enak tuh. Di bawah pohon rindang, hanya beberapa langkah di bawah restoran ini. Alas tidurnya bisa sewa tikar dari para penyewa yang memang bersliweran di tempat rekreasi itu.

Tanpa pikir panjang, Echa dan Giri turun, panggil tukang tiker, gelar dan … gedebuk … tubuh mereka langsung merapat di atas tikar di bawah rindangnya pepohonan. Pasang kaca mata hitam … dan … lessss … lessss … pulasssss.

Kita-kita dari atas ngeliat mereka berdua punya perasaan campur aduk … kasian, sedih, terharu … masa kecil mereka kurang bahagia ya … ampe seneng banget tidur di bawah pohon … xixixi …

Terus, kita-kita yang ‘ditinggalin’ Echa dan Giri, punya ide untuk jalan-jalan ke area yang lebih ke atas dari kawasan itu. Kita sepakat untuk sejenak ‘meninggalkan’ dua korban JJI (Echa dan Giri) tidur di bawah pohon rindang itu. Lalu berangkatlah kita dengan motor masing-masing ke kawasan atas Gunung Mas (pastinya bukan menelusuri kebon teh, melainkan di pinggir-pinggrinya ajah).

Ahhh … Indonesia … memang indah ya! Begitulah pikiran gw saat melintas pinggir kebon teh. Hmmm … alamnya indah, wanitanya cantik-cantik … ramah, baik, sopan dan tidak sombong! … xixixi

Dan sebagai JJI mania, tidak lupa kami foto-foto dulu dengan latar belakang kebon teh yang menghijau. Jepret … jepret … eh, kamera digital ya??? … bunyinya gini : … zzsscchhh … zzsscchhhh …

Puas ‘menghijaukan’ mata, kita balik lagi ke Rumah Makan dimana kita tinggalkan dua korban terkapar di bawah pohon. Ternyata mereka masih asyik bermimpi … xixixi.

Kita biarkan beberapa menit, tapi akhirnya mereka nyadar juga .. dan bangun … tentunya dengan mashi ngucek-ngucek mata yang masih merah dan rambut yang sedikit ngacak (kecuali Echa, karena rambutnya hanya bebarapa senti dari kulit kepala alias botak tipis).

Setelah menunggu ‘roh’ Echa dan Giri kembali ke tubuh masing-masing (setelah mengembara di alam mimpi), kita pun siap-siap lagi di atas tunggangan masing-masing untuk menuju Cianjur.

Cianjurrrrr … we’re comiiiiiiingggg!!!

Next : Sambal Cibiuk … The legend!