Tuesday, September 11, 2007

JJI-4.1 : Ciputih Beach Resort

Jumat, 24.08.07


- dijepret oleh jaka -

Jam 4 pas alarm berdering, sungguh nyebelin karena tidurnya kurang sip. Mungkin terlalu semangat untuk acara pagi ini. Dari H-2 persiapan udah gila-gilaan, menyiapkan pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan dan sedikit cemilan. Ubay bahkan memanfaatkan matanya yang bengkak buat bolos di H-1, mau bongkar-bongkar dan cuci LX Penjahat kesayangan.

“Meong.. meong..’” hp Ubay mengeong. Ternyata ada sms dari Opa Al. Beliau siap jadi RC, asyiiiik dijamin nggak nyasar. Padahal Opa udah lama kurang sehat. JJI ke Cirata beliau sempat absen karena sakit (nyasar deh kite). Bahkan H-1 kemarin Opa sempat ragu mau berangkat atau nggak, naik motor atau bawa mobil, kloter 1 atau kloter 2 atau hari Sabtu bareng Arif.


Sarapan, the most important meal of the day, belajar dari JJI sebelumnya. Roti dan teh manis hangat, cukup mengganjal sampai pemberhentian berikutnya. Biasanya kalau JJI waktu makan bisa berubah-ubah tergantung kondisi di jalan.

Berangkat ke meeting point sambil celingukan cari atm karena katanya di Ciputih itu jauh dari peradaban. Tapi baru sadar kalau dibawah jam 7 atm nggak ada yang buka. Untung di PI ada drive thru-nya atm Mandiri.

Tiba di meeting point paling belakangan, jadi begitu sampai langsung siap-siap berangkat. Nggak sempat nyobain risol bawaan Pram. Kita briefing dan berdoa sebentar sebelum berangkat. Opa jadi RC dan Moko jadi Sweeper. Denmas Franky yang biasanya hobi jadi sweeper, absen di JJI kali ini menunggu kelahiran anak ketiga. Peserta yang berangkat di kloter pertama pagi ini : Opa Al, Echa dan Ayu, nyemplak MX; Jaka, Moko, menunggangi Legend, Pram dengan Trend SR; Wagni dengan EX-nya, Ubay dan Lani naik LX; plus Dodi dengan Yamaha Nouvo. Iruul akan bawa Trend SR-nya bertemu dengan rombongan di Pom Bensin Petronas Pondok Cabe.

Perjalanan di mulai !!

Jam 6 teng rombongan melewati Pondok Indah yang masih sepi. Begitu memasuki daerah Lebak Bulus, ternyata lalu lintas mulai padat dengan orang-orang yang berangkat kantor. “Biasanya nggak begini nih..” mungkin batin peserta rombongan. Iyalah, biasanya kita kan jalan hari Sabtu. Kali ini kan berangkat hari Jum’at, hari kerja. Situ enak bolos buat JJI..

Selain padat, jalan di daerah Pondok Cabe juga terbilang sempit untuk 2 jalur. Biarpun kita ada di jalur sepi tapi di jalur sebaliknya menuju Jakarta amat padat bahkan mengambil jalur lawan. Jumlah kendaraan bermobil cukup banyak tapi jumlah kendaraan bermotor amat luar biasa. Tahu sendiri gaya motor di tengah kemacetan, maunya nyempil dan serobot sana sini.

Kalau ada kendaraan besar di depan, jangan harap bisa mudah menyalip. Wagni sempat “pasang badan” melintangkan Symco di depan bus supaya anggota rombongan bisa menyalip dan melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Tidak seperti biasanya, perjalanan ke Bogor terasa lama karena kondisi jalan yang lebih padat. Sepertinya di setiap terminal, pasar, sekolah dan pabrik, kita harus macet-macetan dan berebut jalan. Pram sempat mengeluarkan jurus tendangan tanpa bayangan ala jet li ke angkot yang tidak mau memberi jalan di depan pasar Parung. Rasanya semrawut banget dan rombongan kocar-kacir.

Sepanjang jalan, matahari bersusah payah muncul dibalik awan abu-abu. Sempet deg-degan takut hujan karena beberapa hari sebelumnya cuaca terus hujan dan sempat ada perbincangan seru di ym soal jas hujan. Untungnya sepanjang jalan kita tidak kehujanan dan juga tidak kepanasan karena cuaca agak mendung.

1,5 jam sampai di Bogor, rekor baru yang kurang membanggakan. Kita istirahat sebentar di pinggir jalan. Acara istirahat selalu diisi dengan mengecek kendaraan masing-masing, minum, makan permen, merokok, nelpon dan sms. Echa yang baru sekali ini bawa rantang, merasa performa MX kurang maksimal padahal perjalanan masih jauh. Sepertinya MX Echa turun pangkat dari sersan menjadi kopral.

Hm… rantang, kok rasanya kurang sreg ya. Kesannya bisa ditenteng atau ditinggal semaunya. Padahal boncenger itu amat penting, bisa jadi navigator, fotografer, bahkan cheerleader dan jaket hidup di jalan.. Bahkan sebenernya boncenger bisa buat uji kemampuan kendaraan di jalan. Motor dan skill rider belum teruji sempurna kalo belum bawa boncenger. Peer buat para biker buat ganti ah istilah rantang. Partner rasanya lebih terhormat.

Kembali ke jalan. Di Bogor, Opa sempat salah jalan menuju Leuwiliang karena sudah lama nggak lewat sana. Untung Opa bukan Franky yang kalo nyasar cari referensi di warung sebelah. Opa tanya tukang parkir dan rombongan langsung balik kanan menuju Leuwiliang. Di jalan, Opa melaju kencang sendirian, itupun masih kurang puas karena merasa MXnya kurang lari (???)..

Tak lama kemudian kita isi bensin dan istirahat di pom bensin Leuwiliang. Untung Pram bawa risol goreng dan ollie ballen (bener nggak nih tulisannya, Pram?). Pram mengaku sebelum berangkat menyempatkan diri menggoreng demi stamina rombongan. Dody dan Moko menyempatkan diri mengambil foto dan video rombongan.

JJI dilanjutkan masih dengan formasi kocar kacir. Opa melaju kencang di depan, sementara Echa terengah-engah di belakang. Sebagai sweeper merangkap fotografer, Moko jelas keteteran. Apalagi pemandangan mendadak jadi indah dengan perkebunan kelapa sawit membentang di sisi kiri jalan. Sayang bila tidak diabadikan. Akibatnya nyaris semua anggota rombongan bertindak sebagai penanda jalan. Alias, di setiap tikungan yang meragukan, pasti ada satu yang “berkorban” menunggu seluruh anggota belok semua. Untung saja masing-masing peserta memiliki ciri khas yang lumayan kelihatan dari jauh.

Jam 11 tiba di pinggir Rangkas Bitung dan minggir di warung sederhana untuk makan siang. Opa, Ubay, Iruul, Dody tiba lebih dulu. Satu persatu sisa rombongan lainnya muncul. Biarpun belum lapar, perut tetap harus diisi karena jadwal makan bisa berantakan kalau di jalan. Untung, menu warung cukup bersahabat bahkan ada juice strawberry yang segar dan murah. Opa sampai nambah. Bahkan katanya ditawarkan yang rasa mocca juga ya ??? (masih nggak ngerti)

Setelah makan siang, kita isi bensin di Pom Rangkas Bitung yang menggunakan Pertamax. Semakin lama pom bensin yang menyediakan Pertamax semakin langka. Jadi setiap kesempatan ketemu pom bensin yang ada Pertamax akan digunakan sebaik-baiknya. Pram menyediakan octane booster untuk meningkatkan mutu bahan bakar, kalau-kalau terpaksa pakai Premium.

Ubay bermaksud membawa Lxnya dengan lebih santai dan menemani pasangan bulan madu Echa dan Ayu di belakang. Tapi kondisi jalan yang kurang bagus, bikin nggak sabaran ingin cepat-cepat melewati. Apalagi ternyata berada dibelakang Echa ternyata bikin ngantuk. Ubay melesat melewati Jaka dan Pram dan nempel dekat Opa. Maksudnya biar nggak ngantuk, tapi ternyata berada dibelakang Opa di jalan yang berliku-liku malah bikin Partner belakang ngantuk, serasa di ayun-ayun. Hingga akhirnya,”gubrak!!” LX melompatin polisi tidur dekat sekolahan.

Perjalanan dilanjutkan kurang lebih dengan tempo yang sama. Opa melesat di depan, yang lain mencoba mengimbangi tapi tetap saja kocar kacir. Saking garangnya Opa di atas MX , dua anak abg dengan Satria FU dan Mio merasa tertantang dan mencoba mengajak Opa balapan. Cerita selengkapnya silahkan cek ke Opa tapi yang jelas begitu kita berhasil nyusul, Opa sudah turun dari motor dan berteriak memanggil kedua anak abg yang ngacir ketakutan.

Memasuki Panimbang, mendadak pemandangan laut dan pantai mengintip dari pinggir jalan. Hampir semua rombongan merasa gembira karena merasa perjalanan tinggal sebentar lagi. Daerah tersebut cukup ramai karena sempat terlihat pasar dan minimarket. Sejenak orang kota merasa lega setelah berjam-jam melibas hutan Banten.

Di pom bensin terakhir sebelum Ciputih di daerah Saketi, rombongan berhenti untuk isi bensin biarpun hanya Premium yang tersedia. Karena petugas pom sedang shalat Jum’at, kita menunggu cukup lama, lumayan untuk istirahat. Di depan pom bensin ternyata ada kantor KUA. Jadi kalau Echa berminat, silahkan…
Begitu petugas muncul, ramai-ramai peserta JJI mengisi bensin kemudian jalan lagi.

Opa kembali memimpin. Mendekati daerah Sumur jalan semakin berliku, naik-turun dengan drastis dan menikung tajam. Sayang, tidak semua jalur mulus teraspal. Mengejar Opa dan Pram, rasanya seperti sedang solo touring naik kuda. LX Penjahat beberapa kali terbang dan menghajar lubang-lubang jahanam di jalan. Pantat mulai kencang dan kaki terasa kaku karena tidak bisa istirahat di medan seperti itu. Partner harus siap beraksi layaknya seorang daredevil. Duh, mau nangis rasanya menahan capek. Untuk menghibur diri, saya menghitung papan petunjuk cukup besar menuju Sumur yang ada di hampir setiap 10 menit perjalanan. Senang rasanya begitu papan itu habis, karena di sana Opa sedang santai menunggu seluruh anggota rombongan berkumpul.

Begitu semua muncul, Opa memberi briefing bahwa perjalanan selanjutnya tinggal 5 menit lagi namun dengan kondisi yang agak rusak. Kita harusnya tahu kalo 5 menit ala Opa itu berarti 3 kali lipatnya. 5 menit ternyata berubah menjadi 15 menit yang sengsara karena kondisi jalan amat parah nyaris menyerupai jalanan di sekitar TPA Rajamandala (baca: JJI episode Cirata). Pantas setelah briefing Opa sampai nggak jadi merokok karena membakar rokoknya dengan terbalik.

Saking seriusnya melewati jalan rusak, sampai kita tidak melihat hotel yang ada di sisi kanan jalan. Memang sih bagi yang pertama ke sana tidak akan menyangka kalau di balik pagar besi yang tinggi dan hutan pantai yang cukup lebat akan ada hotel. Apalagi petunjuk nama hotel hanya di cat di tembok biasa seperti grafiti dibelakang truk saja.

Akhirnya kita semua beloklah ke dalam hotel dan langsung disambut oleh petugas sekuriti merangkap front office, fnb dan bellboy. Opa langsung mengurus pembagian kamar dan akhirnya kita semua mendapat kamar yang tidak berjauhan, sederet di depan pantai. Pak Wiwik di kamar nomer 2, Ubay+ Lani 3, Adi+Febri 4, Wagni+Pram+Iruul 5, Echa+Ayu 6, Jaka+Moko+Dody 7 dan Opa di kamar nomer 8.

Waktu kedatangan di hotel sekitar pukul 14.40 WIB. Lama perjalanan sekitar 8 jam dari perkiraan 7 jam dengan istirahat berkali-kali.

Dengan lega kita menuju cottage masing-masing dengan motor setelah sebelumnya berjanji bila malam akan memarkir kendaraan di dekat pos sekuriti di depan. Pemandangan indah sudah menunggu. Pantai dengan pasir putih yang sepi terhampar tepat di depan kamar. Walaupun deburan cukup keras, tapi ombak tidak terlalu besar sehingga cocok untuk bermain-main di tepi pantai. Area hotel yang mencakup pantai yang cukup luas sehingga memberi rasa privacy layaknya di hotel bintang 5 di Bali. Okupansi hotel hari ini hanya rombongan JJI, jadi kita serasa memiliki hotel dan pantai.

Selesai bongkat muatan dan mandi, kita bermain di pantai sambil terus memantau kloter 2, pak Wiwik, Adi dan Febri yang berangkat sekitar jam 11 siang. Opa mentraktir es kelapa dan langsung memesan menu untuk makan malam ini dan besok. Beberapa JJI-ers memilih istirahat di kursi panjang tepi pantai, ada yang jalan-jalan di bibir pantai dan ada juga yang nyemplung ke laut. Tim dokumentasi juga sibuk mengambil gambar matahari terbenam.

Oh iya, Pram sempat kenalan dengan pengelana dari Bandung yang katanya berjalan kaki sampai Ciputih ini. Inget nggak, Pram ? Kalian akrab bener..
Liburan di Ciputih ternyata juga bermanfaat menambah ilmu pengetahuan bagi salah satu peserta JJI. Ternyata kepiting itu jalannya miring, teman-teman !! Waw… (Damai, Ay..)

Menjelang maghrib, mata mulai berat dan ingin tidur. Tapi karena sedang memantau kloter 2, harus siap menerima sms atau telpon. Biar nggak ngantuk nonton tv dan sempat llihat berita Raisya Ali yang selamat setelah diculik selama 10 hari. Berita cukup besar karena masuk breaking news dan presiden ikut turun tangan. Sekitar jam 18.30 Febri sms minta ditunggu di depan hotel karena mereka telah berada di jalanan rusak. Tak lama mereka muncul dengan ekspresi lega karena telah melewati medan cukup berat ditambah hujan yang lumayan deras.

Makan malam di restaurant yang sepi dan menunya bukan dari restaurant melainkan menyuruh orang hotel beli di tukang terdekat. Menu malam ini sate ayam yang rada pedas, kerupuk dan kacang kulit. Ternyata menu kurang sehingga harus beli lagi. Sementara menunggu, kita review perjalanan hari ini yang cukup seru. Begitu menu muncul, kita sudah nggak semangat makan sehingga menu disimpan untuk sarapan besok pagi.

Selesai makan, kembali ke kamar masing-masing. Tapi kemudian kopdar lagi !! Di teras kamar nomer 5 Echa, Wagni, Irul, Pram sedang main gaple. Tidak mau kalah, kita memang udah niat menggangu kamar Echa, di teras kamar nomer 6 Ayu, Jaka, Febri, Ubay dan Lani main Uno. Lumayan seru, tapi tidak berlangsung lama karena mata sudah semakin sepet. Maka berakhirlah hari pertama yang panjang ini..

7 comments:

Echa said...

Hmm... ternyata lani berbakat sekali dalam menulis =) perjalanan kali ini sangat berkesan, hehehe. pengalaman pertama membawa "rantang" oops! sorry lan, kebiasaan ;) maksudnya partner, hihihi. perlu penyesuaian sih tapi overall okelah. mana nih yg laen comment nya? pokoknya day 1 cukup melelahkan but it worth the long journey to be here....

Anonymous said...

Laniiiii.....
Kenapa aib gw dibuka yah??? Kan jadi malu... *blushing*
Sebagai pendatang baru, aku excited banget nih teman-teman.... Biasanya paling jauh naek motor ke Bogor. Eh, ga nyangka bisa lebih jauh lagi dari Bogor. Cihuy!!!!
Apalagi pas udh nyampe, trus liat tempatnya... 1 kalimat "Just Like Heaven" (even only for that moment doank). Puashhhh!!! Ketemu temen baru, ke tempat baru, ngerasain capek baru, pokoknya a lot of experience yang aku dapet nih!
Can't hardly wait for the next JJI (kalo ada yang ngajak nih! Hihhihiii... ;p)

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Echa said...

"mengapa begini, mengapa begitu?"
mengapa kepiting jalan nya miring?
karena ayu baru tau, huahahahaha =)

Anonymous said...

Abang....!!!! Hiks..hiks.. :(

Kok kamu seneng banget nyelain aku sih?! Huh! Awas ya... ntar di capit ma kepiting baru tau rasa kamu! Hihhihiii..

Nelson Absony Barus said...

mas Pram sesuai pertanyaan anda bersama ini saya beri tau harga Fujita Lactose-s
Rp 360.000 /box (isi 6 sch) harga non member,
Rp 299.000 / box hrg member